Minggu, 24 Januari 2010

gundukan tanah berhiaskan kembang

raga itu telah mati
hanya segumpal danging
roh telah melayang entah kemana

dalam langkahku,
kurasakan langkah lain
mengiringi tiap kaki melangkah

berbisik ketika aku terisak
menjarit ketika aku berteriak
tersenyum ketika aku tertawa

roh itu,
menjadi bayangan akan diri
menjadi yang tak terpisahkan
menjadi penghibur

aku tak dapat melihat
mendengar
dan tak dapat menyentuh

tapi roh itu,
dapat melihatku
mendengarku
berbicara denganku
sekalipun ia berusaha menyentuhku

dalam kediamannya
itulah makam
gundukan tanah berhias kembang
ulat menjadi penghuni dalam
raganya telah menjadi tanah
tanah yang tak bernyawa

walau berjuta hari akan terjadi
walau ragamu telah menjadi
tapi aku tetap hantarkan doa
menjadi sang pendoa
dan akan menjadi terus anakmu
selamanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar