hidupku hanya seperti air, tak pernah menemukan ujung yang jelas, selalu terjadi siklus. menurutku tertawa tak membuatku bahagia, karena menurutku aku belum pantas bahagia sebelum keluargaku bisa tertawa tanpa beban. menurutku aku hanya pantas untuk selalu bersedih dan tetap menjalani hidupku ini dengan pasrah.
pasrah adalah kata yang paling bersahabat untuk urusan hidup, tapi bagiku pasrah tak ada dalam kamus ketika aku sedang ada di sekolah. di sekolah, tak ssatupun teman yang mendekatiku dan aku tak berusaha untuk lebih mendekat. karena aku hanya perlu jalan di tempat. sekolahku terbilang mewah, aku bisa bersekolah itu dikarenakan aku mendapat beasiswa yang kuraih dengan peluhku. aku tau diri untuk hanya diam disana, dan menjalani hidupku apa adanya tanpa perlu tertawa.
hari hariku bisa dikatakan tanpa manis dan asin hidup, tanpa sensasi, tanpa rasa, dan bisa dikatakan MEMBOSANKAN. aku sedih dengan keadaan ini tapi aku hanyalah orang miskin yang bisa bersekolah gratis karena peluhnya yang bau itu, bukan karena uang yang berbau harum.
sebuah penantian yang tak terkira datang, dan aku tak menduganya.
semua terjadi saat dia datang dan menghampiriku.
"hai", sapanya.
aku hanya terdiam tak berkutik karena sekali lagi AKU TAU DIRI.
"hanya diam ? kenapa ? bicaralah, aku ingin mendengar suara merdumu." dia telah memuji
akupun membuka rahang dan mulai berkata "hai juga, ada apa ?" lirih dan terkesan takut.
"aku hanya ingin mengenalmu jauh, sebelum aku pergi jauh." dengan sebuah nada bersahabat.
"pergi kemana ?" tanyaku, penasaran.
"itu bukan masalah yang harus di pertanyakan" dengan nada menunjukan rasa letih.
"baiklah kalo begitu, nama kamu siapa ?" tanyaku berani.
"aku jiwa, salam kenal."
namanya jiwa wibirena. nama yang unik, karena jiwa nya yang berwibawa. aku kira dia adalah anak lama dari sekolahku, dan ternyata dia anak baru pindahan dari Singapore. hebat bukan ? di sini dia tidak bisa lama, karena mempunyai urusan yang belum selesai di Singapore, dan katanya itu penting. aku merasa biasa saja, dan aku baru bisa merasa bahagia setelah dia bisa membuat tawa keluargaku tanpa beban.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar