Sabtu, 17 Oktober 2009

aku bersamanya

aku tertunduk menangis bersama butiran hujan yang turun
tanpa rasa bersalah, mereka temaniku
aku menangis karena mereka diriku dan semuanya
aku larut dalam irama hujan mengalir
detak jantungku derdetak bersamaan ketika mereka terhentak di bumi
tanpa alasan mereka datang, dan sama seperti tangisanku

aku tak bisa merubah nada mereka yang terus menemaniku
karena aku temukan kenikmatan

teralur bagi air yang terus mengalir
aku biarkan diriku terlena
ku biarkan roh ku tinggalkan jiwanya

dan ku biarkan roh ku menyatu dengan nada hentak hujan
roh ku serasa nyaman tanpa tanda tanya
hitungan detik tak terhiraukan

hitungan jam membuatku terusik
mama dan keluarga masih membutuhkanku
aku tau itu
hidupku hanyalah hujan kala mentari ada

tanpa jawab dan pertanda
karena aku bukan orang yang ingin di tebak
aku bukan orang yang ingin di kasihani

karena aku ingin setegar ibuku
karena hiudpku ku hargai dengan tiap tangisannya
dengan tiap peluh keringat yang di tumpahkan tanpa arti
arti yang tak dibutuhkannya lagi

karena cintanya telah kandas tak berujung

dan aku akan menjadi cintanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar